Paguyuban Pranatacara Yogyakarta Tuntut Penyelenggara Pernikahan Anjing Dengan Adat Jawa Lecehkan Masyarakat Jawa


YOGYAKARTA,(JOGJABERKABAR.ID) - Pernikahan anjing menggunakan adat Jawa mengundang reaksi keras dari masyarakat Yogyakarta. Mereka menilai pernikahan anjing jenis ras anabul, Jojo dan Luna yang menggunakan adat Jawa lengkap ini telah melecehkan adat yang diciptakan leluhur dengan nilai filosofi yang tinggi.

Ketua Pambiwara Indonesia (Pepari) yang juga Ketua Paguyuban Pranatacara Yogyakarta (PPY) Ki Abeje Janoko menyatakan pihaknya menyesalkan pernikahan anjing tersebut menggunakan adat Jawa. Acara yang dilaksanakan tersebut sangat menciderai nilai-nilai budaya adiluhung yang tetap dilestarikan di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia. 

"Kami sebagai bangsa Indonesia, merasa mendapat pelecehan dari pelaksanaan ini,"ujar Ki Janoko, Kamis (20/7/2023)

Menurut Ki Janoko, prosesi adat diciptakan oleh leluhur mengandung nilai luhur dan dipakai upacara sakral dalam pernikahan manusia. Dan ketika prosesi tersebut diadopsi untuk prosesi pernikahan dengan memakai simbul simbul budaya adiluhung yang semestinya tidak sepantasnya diterapkan pada anjing. 

PPY sebagai pelaku seni dalam dunia jasa pernikahan yang selama ini sangat menjunjung dan menjaga budaya pernikahan adat Jawa yang bersumber langsung dari Keraton Yogjakarta ataupun Keraton Surakarta. Di mana prosesi ini hanya berlaku untuk pernikahan manusia dengan segala makna indah dan filosoti di dalamnya.

" kami merasa sangat keberatan atas terjadinya prosesi tersebut,"ungkapnya.

Oleh karena itu,  PPY mengutuk keras atas tindakan yang dilakukan oleh pemrakarsa maupun yang mempublikasikan kegiatan itu. Pelaku-pelaku yang ada dan terlibat dalam video tersebut. 

Menurut mereka, Kegiatan tersebut sungguh bertolak belakang dari amanat undang-undang yang tercantum di UU No. 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan dan telah melanggar Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE 2008) jo Pasal 45 ayat (3) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE 2016). 

Oleh karenanya pihaknya menuntut kepada pemrakarsa kegiatan ini untuk meminta maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Indonesia serta tidak akan mengulangi perbuatan tersebut yang jelas-jelas mencederai budaya nusantara yang adiluhung.

Seperti diketahui, dua hari ini jagat Maya tanah air dihebohkan dengan unggahan di media sosial prosesi pernikahan anjing jenis anabul yang menggunakan adat Jawa lengkap. 

Seperti diunggah oleh infobimantara :
beneran anjing! 

"Pagelaran pernikahan anjing dengan adat jawa telan biaya 200 juta 

melestarikan budaya jawa atau justru bentuk pelecehan ?"

Dalam unggahan tersebut nampak dua anjing diberi pakaian lengkap layaknya pernikahan jawa hingga prosesi pernikahannya juga berurutan seperti yang ada di Jawa dan Solo. Prosesi pernikahan ini ada kembar Mayang hingga laku cucuk lampah.(Erh)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.