Banyak Desa Wisata Maju, DIY Jadi Tuan Rumah Pertemuan Desa Se ASEAN

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Abdul Halim Iskandar menyaksikan penandatanganan Asbanda dengan Kementrian Desa.

YOGYAKARTA,(JOGJABERKABAR.ID) - Yogyakarta menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pertemuan Back-to-Back ASEAN Collaborative Forum on Localizing 2030 SDGs in the Village Level, 1st AVN Meeting, dan ASEAN Rural Culture Expo in the Framework of ASEAN Identity. Banyaknya Desa Wisata yang maju di DIY menjadi pertimbangan utama alasan tuan rumah.

Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal, Abdul Halim Iskandar mengatakan hari ini, Selasa (25/7/2023) dirinya secara seremonial membuka pertemuan desa-desa se ASEAN sekaligus pertemuan pertama ASEAN Village pertama sebagai tindak lanjut dari KTT Asean di Bali beberapa waktu yang lalu. Ada 9 desa dari Indonesia dari berbagai negara Asean yang ada desanya kecuali Singapura mulai membangun konektifitas.

"Konektifitas ini untuk dua hal. semuanya dua hal yaitu pertumbuhan ekonomi dan peningkatan SDM (Sumber Daya Manusia),"ujar Gus Halim di Yogyakarta 

Menurut Gus Halim, semua fokus ke pertumbuhan ekonomi dan peningkatan SDM. Di mana apapun yang dilakukan di desa mulai dari pendampingan ataupun pemberdayaan masyarakat oleh siapapun termasuk  Asosiasi Bank Daerah (Asbanda) yang juga bermuara dua hal tersebut.

Karena, lanjut dia, dengan dua hal tersebut akan  berdampak pada pertumbuhan Indonesia secara menyeluruh. Sehingga pertumbuhan ekonomi dan peningkatan SDM menjadi muara semua program yang dilakukan di Desa.

Menurut Gus Halim, Pertemuan ini agak istimewa karena menjadi pertemuan yang pertama Asean network Village sebagai representasi ketetuaan Indonesia di ASEAN. Dan kegiatannya dipusatkan di Jogja dengan berbagai pertimbangan. Karena salah satu desa yang menjadi fokus untuk Asean network itu adalah desa wisata.

" Karenanya tadi malam ada di (Desa Wisata) Mangunan kemudian besok malam di Tebing Breksi. kemudian kita mengadakan pertemuan kecil desa wisata di sekitar DIY,"terang dia.

Gus Halim menyebut dengan pertemuan ini diharapkan masing-masing desa dapat saling mengenal, saling belajar, bertukar pengalaman, sucsess story desa. Karena prinsip dari proses pembangunan desa yang paling mudah adalah replikasi atau amati, tiru dan modifikasi (ATM).

"karena tidak mungkin kita membuat kebijakan yang sifatnya holistik yang linear di semua desa di Indonesia. karena masing-masing desa punya karakter, punya budaya bahkan punya bahasa di daerah indonesia timur punya bahasa sendiri-sendiri dan itu tidak boleh hilang,"tegas dia.

Oleh karenanya SDGs ke 18 itu adalah kelembagaan yang dinamis dan desa adaptif supaya ruh pembangunan di desa itu tidak keluar dari akar budaya. Dia menandaskan pembangunan di desa boleh apa saja baik desa smart, desa digital ataupun apa saja, tetapi satu hal yang harus diperhatikan yaitu tidak boleh tercabut dari budaya setempat.

"karena pembangunan yang bagus adalah selalu mendasarkan pada budaya,"ungkapnya.(erf)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.