Cegah Paceklik Seperti 61 Tahun Silam, Pemerintah Harus Segera Cetak Petani Peternak Milenial


Gunungkidul (Jogjaberkabar.id)-Tak ingin mengalami krisis pangan dan peternakan seperti yang di alami masyarakat Gunungkidul pada tahun 60-an, maka perlu adanya regenerasi petani dan juga percepatan dalam alih teknologi di sektor pertanian, sehingga para milenial tertarik dengan profesi petani yang selama ini jarang di minati para milenial.

Praktisi sekaligus pemerhati pertanian dan kebudayaan Raden mas Kukuh Hertiasning dalam sarasehan dengan para petani peternak Ngudi Makmur di Dusun Manukan, Kalurahan Jepitu, Kapanewon Gitisubo, Kabupaten Gunungkidul. Mengatakan Pertanian yang menjadi soko guru dari kehidupan masyarakat ini haruslah di topang dengan peternakan yang mumpuni. 

Namun menjadi eronis di masa modernisasi dan era digital seperti saat ini, Indonesia mengalami defisit petani muda sehingga lambat laun stigma Indonesia sebagai negara agraris akan punah.

Kukuh mengharapkan ada keseriusaan pemerintah baik pusat, provinsi DIY maupun pemerintah Kabupaten Gunungkidul untuk mencetak generasi petani baru di era milenium ini.

"Jelas kita tak mau sejarah 61 tahun silam terulang kembali, di mana Gunungkidul mengalami paceklik yang sangat dahsyat hingga sampai saat ini di jadikan stigma bagi masyarakat luar bahwasannya Gunungkidul daerah minus dan tandus. Padahal semua itu tidak benar, Ini jangan sampai terjadi di era maju seperti sekarang ini,"kata Kukuh dihadapan para petani peternak milenial Dusun Manukan.

Tak hanya infrastruktur Kukuh juga menyoroti perlu adanya pendanaan yang perlu di keluarkan bagi pengembangan dan pembentukan petani dan peternak milenial, ia menambahkan alih teknologi harus segera di sesuaikan dan harus segera di terpakan agar ketertarikan para milenial akan sektor pertanian dan peternakan dapat terealisasi secepat mungkin.

"Era sudah berubah, para milenial ini butuh bukti bukan hanya janji, sehingga pengembangan pertani milenial menjadi jelas di mana keberpihakan negara di hadapan para petani," imbuh Kukuh.

Kepada jogjaberkabar.id Kukuh mengatakan selain peningkatan kualitas dan kwantitas petani melienial, masyarakat tani juga harus tahu filosofi dari tani itu sendiri, karena tani bukan hanya saja sekedar menanam dan memanen semata namun di dalamnya ada hati dan niat insun dalam melakukan pertanian, dan bagaimana petani adalah kelompok profesi yang 100 persen berserah kepada sang pencipta.

"TANI itu Tiang Agung Nagari Indonesia jadi para petani itu pahlawan kehidupan bagi masyrakat Indonesia, bila saat ini negara dan pemerintah tidak memikirkan regenerasi para petani ini maka kita semua mau makan apa besok," kata Kukuh.

WAP

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.