Lazarus Arintoko : Harus Ada Keseriusan Pendampingan Dalam Hal Budidaya Dan Penanganan Paska Panen Bagi Petani Kita

Lazarus Arintoko saat (kiri) saat mendampingi Gusti Aning berdialog dengan para petani Gunungkidul

Gunungkidul (Jogjaberkabar.id)-Walaupun sektor pertanian tidak berpengaruh pada adanya pandemi, bahkan sektor pertanian mampu mendorong berjalan nya sektor kesehatan dan juga sektor ekonomi. Namun masih banyak kendala yang harus di hadapi petani di Indonesia, sehingga harus ada formulasi dan pendampingan khusus agar para petani mampu meningkatkan hasil pertanian nya sehingga mampu meningkatkan kesejahteraan nya.

Hal itu di sampaikan praktisi pertanian Lazarus Arintoko saat mendamping cucu HB VIII Raden Mas Kukuh Hertriasning yang lebih di kenal dengan panggilan Gusti Aning saat melakukan anjangsana dan dialog dengan para petani di Balai Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin. Minggu malam (5/8).

"Permasalahan petani itu ada di dua  faktor, ada di budidayanya dan penanganan paska panen atau pasar, sehingga Harus ada pendampingan paska panen sehingga petani mampu mendapatkan profit dari apa yang di tanamnya selama ini," kata Arintoko.

Bicara penanganan paska panen Lazarus Arintoko atau akrab di sapa Arin ini sanggup melakukan pendampingan para petani. Ia membidik tanaman jagung masih komoditas yang masih di butuhkan bagi industri pakan ternak.

"Kebutuhan ayam potong di Indonesia itu selalu mengalami peningkatan sehingga ini di barengi oleh peningkatan akan permintaan pakan ternak dan formulasi pakan ternak di dominasi oleh komuditas jagung, saya ingin jagung-jagung yang di tanam di lahan pertanian Kalurahan Bendung ini memiliki great yang di butuhkan oleh para industri pakan ternak tersebut," sambung Arintoko.

Lebih lanjut Arintoko mengatakan kwalitas produksi pertanian yang baik akan menentukan pasarnya sendiri, untuk mendapatkan kwalitas produksi pertanian yang baik maka perlu adanya perbaikan budidaya nya.

Arintoko optimis bila pertanian di Kalurahan Bendung dengan luasan lahan 493 hingga 500 hektar mampu menghasilkan 6 hingga 7 ton setiap hektar nya.

Tak hanya membicarakan mengenai budidaya dan penanganan paska panen, Arintoko juga menyoal petani milenial, Arintoko melihat masih rendahnya kesejahteraan para petani di Indonesia membuat para petani tidak menginginkan anak keturunannya menjadi seorang petani, sehingga menurut Arintoko pola berfikir seperti ini harus di rubah, sehingga regenerasi di bidang pertanian di Indonesia khususnya Gunungkidul mampu berjalan dengan baik.

"Dengan pendampingan yang saya lakukan ini, saya menginginkan petani bila di tanya, profesi nya apa pak. Tani dengan bangga sambil menepuk dada. Pola pikir Menjadi petani adalah pahlawan sudah harus di gaungkan sehingga ini dapat menjadikan contoh bagi para milenial untuk ikut menjadi petani, apa lagi saat ini banyak teknologi tepat guna yang mampu di terapkan dalam sektor pertanian," tutupnya.

WAP


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.