MARWOTO : Tak Ada Kata Tua Untuk Belajar


Humaniora, (jogjaberkabar.id)- 
Pelawak senior Marwoto sempat terkenal melalui acara Ketoprak Humor di salah satu stasiun televisi swasta. Dunia pertunjukan ia tekuni sejak kecil tahun 1967, melalui ketoprak tobong atau berkeliling. Darah seninya diturunkan dari kakek dan kedua orang tua yang juga pemain ketoprak. Marwoto mengatakan sangat senang melihat perkembangan panggung terbuka atau dunia pertelevisian saat ini. Kehadiran komedian-komedian baru memberi warna lain bagi seni pertunjukkan.

”Kita senenglah melihat kemampuannya yang luar biasa dari stand up komika sekarang. Kita yang tua-tua ini harus bisa mengikuti meski harus tertatih-tatih, menyerap energi dari mereka yang muda.”akunya.

Kendati begitu, sebagai komedian Jawa Marwoto tak pernah merasa kehilangan identitas dirinya sebagai seniman.

”Tidak ada kekhawatiran humor kedaerahan akan hilang. Bagaimanapun akar budaya tidak pernah hilang. Tinggal kita menyikapinya saja. Kalo kita tidak berinovasi, tidak berkreasi nanti malah bisa jadi monumen.”tegas Marwoto. 


Memang tak bisa dipungkiri lagi, pandemi covid 19 menuai efek berkepanjangan di seluruh sektor. Geliat panggung seni pertunjukan harus terhenti untuk menghindari kerumunan massa. Hal ini menjadi sebuah tantangan bagi seniman ‘dagelan’ di Yogyakarta. 

Dipertengahan tahun 2020, Marwoto menceritakan keterlibatan dirinya dalam pertunjukan seni bertajuk Komedi Poetar. Sebuah pertunjukan komedi “dagelan” virtual lintas generasi. Menurutnya, pertunjukan yang memadukan antara generasi senior, generasi media sosial dan generasi muda dari berbagai latar belakang itu merupakan satu terobosan baru. 

Komedi Poetar ditampilkan secara daring dengan menggabungkan unsur pertunjukan komedi tradisional dan komedi modern, yang dikemas dalam satu adegan pertunjukan utuh.

”Makanya kita harus belajar. Kita tidak boleh stak. Kalau stak bisa ketinggalan zaman, Semampu kita. Kita tidak muda lagi, sekuat tenaga, semampu kita. Proses pencarian itu kita kembangkan meskipun kita gabtek. Harus menyadari bagaimana perkembangannya situasi di luar” ujar Pelawak berusia 69 tahun ini. 


Kolaborasi dan teknologi dengan segala keterbatasannya, Menurut Marwoto harus menjadi pilihan pada saat ini. Panggung virtual harus menjadi ruang baru bagi seniman. Seni pertunjukan harus berkompromi dan beradaptasi dengan tatanan kehidupan baru yang menjadi pasar seni baru dalam dunia pertunjukan.

”Belajar mengamati situasi selama ini. Kita harus telaten karena yang namanya seniman bagi saya, kalau kita tidak belajar akan ketinggalan. Jadi bagaimana kita menyikapinya.”Wujud ekspresi berkesenian di era digital membuat ruang baru bagi seniman untuk menggelar pertunjukan secara rutin. Hal ini merupakan konsep baru bagi pertunjukan seni komedi yang bisa dikelola secara profesional dan kreatif.”Kalau saya tidak ada kata tua untuk belajar. Sebagai seniman itu membuka peluang baru. Harus terus menggali. Apa yang kita tekuni akan memberikan hasil yang baik karena proses tidak akan bohong.”Marwoto mengakhiri perbincangannya. 

Penulis : Dian Wahyudi
Editor    : Redaksi

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.