YATI PESEK : Peradaban Sebuah Bangsa Tergantung Dari Budayanya


Yogyakarta (jogjaberkabar.id) Siapa yang tak mengenal Yati Pesek, seniman serba bisa dengan logat jawa dan humor khas masyarakat Yogyakarta. mengawali kariernya dari pentas teater tradisional. Pemilik nama asli Suyati, terlahir dari orang tua berdarah seni. Yati Pesek lahir di Yogyakarta tahun 1952.

“Perjalanan saya sejak usia 7 tahun. Awal perjalananku dari bapak dan ibu seniman wayang orang. Sejak kecil saya ikutan menari bersama mereka” jelas Yati Pesek saat di wawancarai jogjaberkabar.id melalui sambungan telepon, Kamis (27/5).

Dalam berkesenian, Yati tak pernah mengenal kata menyerah. Seniman asal kota gudeg Yogyakarta ini meniti kariernya dari panggung ke panggung di berbagai daerah. 

”Setiap manggung selalu mendapat aplouse dari penonton. Saya sudah melanglangbuana ke Jakarta, Surabaya, Banyuwangi, mulai dari ketoprak, menari , wayang orang,” Yati menambahkan.

Yati pesek terkenal dengan guyonannya yang khas dan cukup menghibur. Ia pernah bergabung dalam, ketoprak, wayang, campur sari hingga komedi. Nama Yati Pesek semakin menanjak saat ia menjadi pemain dalam program humor. Di tahun 1990, ia kerap tampil dalam program ketoprak plesetan di stasiun televisi.

 “Ketoprak plesetan itu dulu ceritanya Damarwulan digambarkan bagus banget. Yang jadi Anjasmara digambarkan cantik banget. Dan ternyata Damarwulan-nya Mas Marwoto. Anjasmara-nya saya. Kan itu kepleset” Yati sambil tertawa diujung telepon.

Kecintaan Yati Pesek terhadap seni dan budaya memang sangat kental hingga saat ini. Bukti kecintaannya terhadap dunia seni tradisi Ia mendirikan sebuah Pedepokan di daerah Manisrenggo, Kabupaten Klaten, provinsi Jawa Tengah sejak tahun 2005. Padepokan yang didirikan di atas lahan 5.000 meter persegi itu, menjadi pusat kegiatan bagi dalang di Solo dan Yogyakarta. Selain itu Yati, juga memberikan pelatihan kepada anak-anak tanpa dipunggut biaya. Menurutnya, kegiatan itu menjadi wujud kongkret untuk menjaga kesenian tradisional tetap eksis. 

“Dari dulu sampai sekarang tugas saya harus melestarikan seni budaya peninggalan nenek moyang. Banyak anak kecil latihan disini latihan drama , latihan ketoprak , aku tidak mungkut biaya sepeserpun, karena apa yang saya Lakukan merupakan tanggungjawab dalam melestarikan kebudayaan kita dan semampu saya”ujarnya. 

Yati menyayangkan keberadaan wayang orang telah tergusur oleh budaya asing yang gencar ditayangkan melalui media televisi. 

”Wayang itu banyak tuntunan-tuntunan silsilah, budi pekerti , tata krama dan masih ada benang merahnya. Kita kembangkan seni budaya kita yang adiluhung ini Asor lan bangsa gumantung ing seni lan budaya (Peradaban sebuah bangsa tergantung dari budayanya). Kita ndagel pakai tata krama juga bisa lucu. Penyampaiannya jangan mekso. Jangan dianggap remeh dan asal bisa mengeruk banyak uang,”tegas Yati Pesek dengan nada prihatin.

Agar tetap eksis, ia harus rela proaktif, dengan mendirikan padepokan seni tradisi yang di lakukannya seperti saat ini. Dan tetap mensyukuri apa yang telah di raih selama ini.

 “Kalau tidak, peluang itu bisa pindah ke tangan orang lain. Tapi, saya percaya rezeki sudah diatur Gusti Allah”, ungkapnya. 

Kendati begitu, bukan berarti semua tawaran main film ia terima. Seniman yang sudah sejak tahun 1978 menetap di Yogyakarta ini, paling tidak bisa kalau diajak main film dengan sistem kontrak. Alasannya, terlalu membuang waktu. 

“Sebab, lebih banyak menganggurnya dibanding waktu untuk syuting. Kalau harus tiga hari selesai, kenapa sampai sepekan atau sebulan. Tidak apa-apa meski harus lembur,”ujarnya. 

Seperti diketahui, Yati pesek bermain dalam sejumlah film layar lebar, diantaranya film Lawang Sewu. Film terakhir yang ia bintangi adalah Wakil Rakyat, berperan sebagai Mbok Sanem. Di film ini ia beradu akting dengan aktor muda seperti Tora Sudiro.

Penulis : Dian Wahyudi
Editor : Wahyu Adi Putranto


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.