Siap Terima Dana Keistimewaan, KWT Kalurahan Bendung Panen Jagung Manis

Dalam mengupayakan ketahanan pangan dan terciptanya lumbung pangan mataram, Kelompok Wanita Tani (KWT) Kalurahan Bendung bersama dengan Kepala Dinas pertanian dan peternakan (DPP) Kabupaten Gunungkidul melakukan panen raya jagung manis di kebun KWT kompleks balai Kalurahan Bendung, Kapanewon Semin, Minggu (16/5).

Kepal DPP Kabupaten Gunungkidul Ir. Bambang Wisnu Broto yang hadir di damping staf nya mengatakan panen raya jagung manis ini adalah upaya mewujudkan ketahanan pangan keluarga dalam menghadapi pandemi covid-19.

"Hari ini kami di undang oleh kelompok wanita tani kalurahan Bendung untuk memanen jagung manis, sebelumnya kwt kaluraham Bendung ini juga sudah melakukan kegiatan panen holtikultura diantaranya terong, cabai dan sekarang jagung manis," kata Bambang Wisnu Broto.

Bambang juga menjelaskan perkembangan yang di lakukan KWT Kalurahan Bendung ini sangat menggembirakan dari luasan lahan 2000 meter dan modal produksi 1 juta 50 ribu rupiah dapat menghasilkan omset 14 juta rupiah.

Bambang Wisnu berharap KWT Kalurahan Bendung mampu melipat gandakan hasil produksi pertaniannya baik pertanian holtikultura maupun tanaman palawija. Ia menambahkan agar Kalurahan Bendung mampu menjadi pilot projeck tercipta lumbung pangan di Kapanewon Semin.

Sementara itu Lurah Bendung Didik Rubianto saat di tanyakan kesiapan membentuk lumbung pangan mataram yang menjadi program pemerintah provinsi DIY mengatakan panen kali ini adalah embrio dalam menciptakan dan melihat kesiapan masyarakat Kalurahan Bendung dalam membentuk lumbung pangan mataram.

"Panen kali ini adalah upaya pemerintah kalurahan dan peran aktif dinas pertanian dan pangan Kabupaten Gunungkidul dalam menciptakan lumbung pangan mataram yang juga program provinsi DIY, dan bila dana keistimewaan nanti di gelontorkan oleh pemerintah provinsi kami beserta KWT dan masyarakat sudah siap dalam pengelolaan dana keistimewaan terkait dengan lumbung mataram atau bahasa kerenya integrated agriculture atau integrated farming," jelas Lurah Bendung Didik Rubianto.

(WAP)

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.